Pengembangan Kode Etik Profesi

April 1, 2010 pukul 7:27 am | Ditulis dalam pendidikan | Tinggalkan komentar

PENGEMBANGAN KODE ETIK PROFESI

KONSEP DASAR KODE ETIK PROFESI

            Kode etik sendiri awalnya berawal dari CODE dan ETHICS. Menurut Arthur S. Reber & Emily Reber dalam Yondra; Code is a set of standards of rules for cunduct, sedangkan Ethics is a branch oh philosophy concerned with that which is deemed acceptable in human behavior with what is good or bad, right or wrong in human conduct in pursuit of goals and aims. JP Chaplin, Phd mengatakan bahwa Code is standard of conduct.

            Kode yaitu tanda-tanda atau simbol-simbol yang berupa kata-kata, tulisan atau benda yang disepakati untuk maksud-maksud tertentu, misalnya untuk menjamin suatu berita, keputusan atau suatu kesepakatan suatu organisasi. Kode juga dapat berarti kumpulan peraturan yang sistematis.

Kode etik yaitu norma atau azas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku sehari-hari di masyarakat maupun di tempat kerja. Kode etik merupakan sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Kode etik diusahakan untuk mengatur tingkah laku moral suatu kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuan-ketentuan tertulis dalam masyarakat melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan akan dipegang teguh oleh seluruh kelompok tertentu (K.Bertens: 279-280).

Profesi adalah suatu moral community (masyarakat moral) yang memiliki nilai moral dan nilai-nilai bersama. (Paul F. Camenisch dalam K. Bertens:280). Selain itu profesi adalah pekerjaan atau jabatan tetap dan teratur yang menuntut keahlian yang didapat dari pendidikan atau pelatihan khusus.

Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa kode etik profesi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari dalam sebuah profesi . Kode etik profesi sebetulnya tidak merupakan hal yang baru. Sudah lama diusahakan untuk mengatur tingkah laku moral suatu kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan akan dipegang teguh oleh seluruh kelompok itu. Kode etik profesi dapat menjadi penyeimbang segi-segi negatif dari suatu profesi, sehingga kode etik seperti kompas yang menunjukkan arah moral bagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin mutu moral profesi itu dimata masyarakat.

TUJUAN KODE ETIK PROFESI

            Prinsip-prinsip umum yang dirumuskan dalam suatu profesi akan berbeda satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan perbedaan adat, kebiasaan, kebudayaan, dan peranan tenaga ahli profesi yang didefinisikan dalam suatu negar tidak sama.

Tujuan Kode Etik Secara Umum

  1. Standar-standar etika menjelaskan dan menetapkan tanggung jawab terhadap klien, institusi, dan masyarakat pada umumnya.
  2. Standar-standar etika membantu tenaga ahli profesi dalam menentukan apa yang harus mereka perbuat kalau mereka menghadapi dilema-dilema etika dalam pekerjaan.
  3. Standar-standar etika membiarkan profesi menjaga reputasi atau nama dan fungsi-fungsi profesi dalam masyarakat melawan kelakuan-kelakuan yang jahat dari anggota-anggota tertentu.
  4. Standar-standar etika mencerminkan / membayangkan pengharapan moral-moral dari komunitas, dengan demikian standar-standar etika menjamin bahwa para anggota profesi akan menaati kitab UU etika (kode etik) profesi dalam pelayanannya.
  5. Standar-standar etika merupakan dasar untuk menjaga kelakuan dan integritas atau kejujuran dari tenaga ahli profesi.
  6. Perlu diketahui bahwa kode etik profesi adalah tidak sama dengan hukum (atau undang-undang). Seorang ahli profesi yang melanggar kode etik profesi akan menerima sangsi atau denda dari induk organisasi profesinya

Sedangkan tujuan dari kode etik profesi menurut Andrew Alson, adalah:  

  1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
  2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
  3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
  4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
  5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
  6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
  7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
  8. Menentukan baku standarnya sendiri.

Dengan kata lain, dengan adanya kode etik profesi ini kepercayaan masyarakat akan suatu profesi dapat diperkuat karena setiap klien mempunyai kepastian bahwa kepentingannya akan terjamin.

FUNGSI DARI KODE ETIK PROFESI

  1. Memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan.
  2. Sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan.
  3. Mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi. Etika profesi sangatlah dibutuhkan dalam berbagai bidang.

 

KARAKTERISTIK KODE ETIK PROFESI  

Agar dapat berjalan dengan semestinya, yang menjadi syarat mutlak dari kode etik adalah bahwa kode etik itu dibuat oleh profesi atau kelompok itu sendiri. Namun selain itu syarat lain agar kode etik itu berhasil dengan baik adalah dengan pengawasan yang terus menerus.

LANGKAH-LANGKAH PEMBUATAN KODE ETIK

            Pembuatan kode etik bukanlah hal yang mudah karena menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap profesi tersebut. hal-hal yang perlu dilakukan antara lain:

  1. Undang wakil-wakil profesi atau kelompok dari berbagai perwakilan daerah dan jelaskan perlunya penetapan kode etik profesi.
  2. Memberikan kesempatan pada mereka untuk menyusun kode etik profesi secara individu ataukelompok berdasar wilayah perwakilan.
  3. Sampaikan masukan-masukan pada konsep kode etik yang telah disusun oleh peserta perumusan kode etik.
  4. Berikan kesempatan dan tawaran bagi peserta perumusan kode etik.
  5. Konsep akhir kode etik hendaknya disahkan oleh pengurus inti profesi tersebut dan pada tahap akhir disahkan melalui Surat Keputusan (SK).

 

SANKSI PELANGAR KODE ETIK

Menurut Yondra, sekilas bahwa kode etik hanya untuk organisasi tertentu maka pelanggaranya tergantung dari suatu organisasi berikut terdapat beberapa sangsi.

  1. Sanksi moral

Kode etik disusun oleh organisasi profesi sehingga masing-masing profesi memiliki kode etik tersendiri. Misalnya kode etik dokter, guru, pustakawan, pengacara, Pelanggaran kode etik tidak diadili oleh pengadilan karena melanggar kode etik tidak selalu berarti melanggar hukum. Sebagai contoh untuk Perhimpunan Guru Republik Indonesia terdapat Kode Etik Keguruan. Bila seorang guru dianggap melanggar kode etik tersebut, maka dia akan diperiksa oleh Majelis Kode Etik Keguruan Indonesia, bukannya oleh pengadilan.

  1. Sanksi dikeluarkan dari organisasi (etika di suatu organisasi)

Kode Etik Profesi merupakan bagian dari etika profesi. Kode etik profesi merupakan lanjutan dari norma-norma yang lebih umum yang telah dibahas dan dirumuskan dalam etika profesi. Kode etik ini lebih memperjelas, mempertegas dan merinci norma-norma ke bentuk yang lebih sempurna walaupun sebenarnya norma-norma tersebut sudah tersirat dalam etika profesi. Dengan demikian kode etik profesi adalah sistem norma atau aturan yang ditulis secara jelas dan tegas serta terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik.

Pelanggaran kode etik akan ditindak dan dinilai oleh suatu dewan kehormatan atau komisi yang dibentuk khusus untuk itu. Karena tujuannya adalah mencegah terjadinya perilaku yang tidak etis, seringkali kode etik juga berisikan ketentuan-ketentuan profesional, seperti kewajiban melapor jika ketahuan teman sejawat melanggar kode etik. Ketentuan itu merupakan akibat logis dari self regulation yang terwujud dalam kode etik; seperti kode itu berasal dari niat profesimengatur dirinya sendiri, demikian juga diharapkan kesediaan profesi untuk menjalankan kontrol terhadap pelanggar. Namun demikian, dalam praktek seharihari control ini tidak berjalan dengan mulus karena rasa solidaritas tertanam kuat dalam anggota-anggota profesi.

RUJUKAN

Alson, Andrew. 2008. Pokok-pokok Kepegawaian. (Online), (http://etikaprofesidanprotokoler.blogspot.com, diakses 3 Januari 2010)

Bertens, K. 2002. ETIKA. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Yondra. 2009. Kode etik dan profesi (Online), (http://yondra0765.blogspot.com/2009/05/kode-etik-dan-profesi.html, diakses 6 Januari 2010)

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: